MENEMBUS SEKAT DIGITAL DENGAN MEMBERDAYAKAN SPIRITUALITAS PADA GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
Keywords:
spiritualitas; pelayanan; para murid; guru dan tenaga kependidikanAbstract
Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk memberikan pembelajaran mendalam implementasi spiritualitas tempat kerja kepada para pendidik dan tenaga kependidikan melalui pendekatan studi kasus metode yang dilakukan dengan cara pendampingan dan evaluasi. Program ini bertujuan mengembangkan sikap bersyukur dan pemberian makna pekerjaan sebagai panggilan berdasarkan nilai-nilai spiritualitas di lingkungan sekolah.
Desain/Metodologi/Pendekatan: Kegiatan ini dilaksanakan pada salah satu sekolah di Yayasan St. Yohanes Gabriel Perwakilan Blitar, Tulung Agung, dan Trenggalek. Pendekatan yang digunakan adalah metode kasus dengan teknik Experiential Learning Cycle (ELC) (Kolb & Kolb, 2005). ELC memiliki empat langkah, yaitu 1) Concrete Experience (CE) yang merupakan langkah bagi peserta untuk mengalami langsung dalam bermain game; 2) Reflective Observation (RO), langkah bagi peserta untuk merefleksikan dan mengamati pengalaman yang diperoleh dari game; 3) Abstract Conceptualization (AC) adalah langkah untuk peserta memahami teori, konsep, atau kesimpulan logis dari hasil refleksi; 4) Active Experimentation (AE) adalah langkah pada saat peserta menguji coba konsep baru tersebut ke dalam situasi atau aksi nyata yang baru. Kegiatan ini melibatkan para pendidik dan tenaga kependidikan di SMP Katolik St. Yohanes Gabriel (SMPK Yoga) Blitar.
Temuan: Hasil menunjukkan bahwa 100% peserta mampu mengingat materi-materi yang disampaikan, 85% peserta aktif mengartikan makna permainan, 100% peserta memiliki komitmen untuk melaksanakan nilai-nilai spiritualitas tempat kerja. Selama kegiatan, peserta mengikuti dengan tingkat antusiasme dan partisipasi aktif yang tinggi.
Implikasi Praktis: Penyegaran guru karyawan terkait implementasi spiritualitas penting dilakukan, karena implementasi spiritualitas bukan lagi sekadar pemenuhan program kerja tahunan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak (urgensi) di era modern ini. Dalam realita di lapangan menunjukkan bahwa aspek spiritualitas tempat kerja harus terus disegarkan dan ditingkatkan oleh karena persoalan yang semakin komplek saat ini. Dalam kalangan guru dan tenaga kependidikan diperlukan strategi dalam menghadapi gen alpha yang sangat logis, instan, berbasis visual, dan terkadang terlihat kurang dalam empati atau sopan santun konvensional karena terlalu banyak berinteraksi dengan layar. Gen alpha tidak mengandalkan aturan kaku maka diperlukan kecerdasan spirituali yang memadai agar para guru dan tenaga kependidikan memiliki kesabaran, kemampuan memahami tanpa penghakiman, dan menjadi model yang otentik.
Orisinalitas/Nilai: Kegiatan ini mengintegrasikan kecerdasan spiritual dan bekerja sebagai panggilan dalam implementasi pelayanan kepada para murid. Program ini menawarkan model pendidikan spiritual sebagai dasar pelayanani yang menekankan belajar melalui pengalaman dan pengembangan karakter yang mudah bersyukur ata segala pengalaman.
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Yuliana Sri Purbiyati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










_1.png)


